<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Iw4nsi&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://iw4nsi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://iw4nsi.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 10 Aug 2009 12:51:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='iw4nsi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Iw4nsi&#039;s Blog</title>
		<link>http://iw4nsi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://iw4nsi.wordpress.com/osd.xml" title="Iw4nsi&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://iw4nsi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>ASKEP ANEMIA</title>
		<link>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/08/10/askep-anemia/</link>
		<comments>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/08/10/askep-anemia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 12:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iw4nsi.wordpress.com/2009/08/10/askep-anemia/</guid>
		<description><![CDATA[ANEMIA A. Pengertian Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah (Doenges, 1999). Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=84&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#0000ff;">ANEMIA</span></p>
<p>A. Pengertian</p>
<p>Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah (Doenges, 1999). Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935). Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah, kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah (Price, 2006 : 256). Dengan demikian anemia bukan merupakan suatu diagnosis atau penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh dan perubahan patotisiologis yang mendasar yang diuraikan melalui anemnesis yang seksama, pemeriksaan fisik dan informasi laboratorium.  B. Etiologi Penyebab tersering dari anemia adalah kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12 dan asam folat. Selebihnya merupakan akibat dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik, penyakit kronik, keracunan obat, dan sebagainya.    Penyebab umum dari anemia:      * Perdarahan hebat     * Akut (mendadak)     * Kecelakaan     * Pembedahan     * Persalinan     * Pecah pembuluh darah     * Penyakit Kronik (menahun)     * Perdarahan hidung     * Wasir (hemoroid)     * Ulkus peptikum     * Kanker atau polip di saluran pencernaan     * Tumor ginjal atau kandung kemih     * Perdarahan menstruasi yang sangat banyak     * Berkurangnya pembentukan sel darah merah     * Kekurangan zat besi     * Kekurangan vitamin B12     * Kekurangan asam folat     * Kekurangan vitamin C     * Penyakit kronik     * Meningkatnya penghancuran sel darah merah     * Pembesaran limpa     * Kerusakan mekanik pada sel darah merah     * Reaksi autoimun terhadap sel darah merah     * Hemoglobinuria nokturnal paroksismal     * Sferositosis herediter     * Elliptositosis herediter     * Kekurangan G6PD     * Penyakit sel sabit     * Penyakit hemoglobin C     * Penyakit hemoglobin S-C     * Penyakit hemoglobin E     * Thalasemia (Burton, 1990).  C. Patofisiologi Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum-sum tulang dapt terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, inuasi tumor, atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi) pada kasus yang disebut terakhir, masalah dapat akibat efek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa factor diluar sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah. Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam system fagositik atau dalam system retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil samping proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akan masuk dalam aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direpleksikan dengan meningkatkan bilirubin plasma (konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau kurang ; kadar 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera. Anemia merupakan penyakit kurang darah yang ditandai rendahnya kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit). Fungsi darah adalah membawa makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika suplai ini kurang, maka asupan oksigen pun akan kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja organ-organ penting, Salah satunya otak. Otak terdiri dari 2,5 miliar sel bioneuron. Jika kapasitasnya kurang, maka otak akan seperti komputer yang memorinya lemah, Lambat menangkap. Dan kalau sudah rusak, tidak bisa diperbaiki (Sjaifoellah, 1998).  D. Manifestasi klinis Gejala klinis yang muncul merefleksikan gangguan fungsi dari berbagai sistem dalam tubuh antara lain penurunan kinerja fisik, gangguan neurologik (syaraf) yang dimanifestasikan dalam perubahan perilaku, anorexia (badan kurus kerempeng), pica, serta perkembangan kognitif yang abnormal pada anak. Sering pula terjadi abnormalitas pertumbuhan, gangguan fungsi epitel, dan berkurangnya keasaman lambung. Cara mudah mengenal anemia dengan 5L, yakni lemah, letih, lesu, lelah, lalai. Kalau muncul 5 gejala ini, bisa dipastikan seseorang terkena anemia. Gejala lain adalah munculnya sklera (warna pucat pada bagian kelopak mata bawah). Anemia bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang tenaga dan kepala terasa melayang. Jika anemia bertambah berat, bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung(Sjaifoellah, 1998).  E. Komplikasi Anemia juga menyebabkan daya tahan tubuh berkurang. Akibatnya, penderita anemia akan mudah terkena infeksi. Gampang batuk-pilek, gampang flu, atau gampang terkena infeksi saluran napas, jantung juga menjadi gampang lelah, karena harus memompa darah lebih kuat. Pada kasus ibu hamil dengan anemia, jika lambat ditangani dan berkelanjutan dapat menyebabkan kematian, dan berisiko bagi janin. Selain bayi lahir dengan berat badan rendah, anemia bisa juga mengganggu perkembangan organ-organ tubuh, termasuk otak (Sjaifoellah, 1998).  F. Pemeriksaan penunjang Jumlah darah lengkap (JDL) : hemoglobin dan hemalokrit menurun. Jumlah eritrosit : menurun (AP), menurun berat (aplastik); MCV (molume korpuskular rerata) dan MCH (hemoglobin korpuskular rerata) menurun dan mikrositik dengan eritrosit hipokronik (DB), peningkatan (AP). Pansitopenia (aplastik). Jumlah retikulosit : bervariasi, misal : menurun (AP), meningkat (respons sumsum tulang terhadap kehilangan darah/hemolisis). Pewarna sel darah merah : mendeteksi perubahan warna dan bentuk (dapat mengindikasikan tipe khusus anemia). LED : Peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, misal : peningkatan kerusakan sel darah merah : atau penyakit malignasi. Masa hidup sel darah merah : berguna dalam membedakan diagnosa anemia, misal : pada tipe anemia tertentu, sel darah merah mempunyai waktu hidup lebih pendek. Tes kerapuhan eritrosit : menurun (DB). SDP : jumlah sel total sama dengan sel darah merah (diferensial) mungkin meningkat (hemolitik) atau menurun (aplastik). Jumlah trombosit : menurun caplastik; meningkat (DB); normal atau tinggi (hemolitik) Hemoglobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin. Bilirubin serum (tak terkonjugasi): meningkat (AP, hemolitik). Folat serum dan vitamin B12 membantu mendiagnosa anemia sehubungan dengan defisiensi masukan/absorpsi Besi serum : tak ada (DB); tinggi (hemolitik) TBC serum : meningkat (DB) Feritin serum : meningkat (DB) Masa perdarahan : memanjang (aplastik) LDH serum : menurun (DB) Tes schilling : penurunan eksresi vitamin B12 urine (AP) Guaiak : mungkin positif untuk darah pada urine, feses, dan isi gaster, menunjukkan perdarahan akut / kronis (DB). Analisa gaster : penurunan sekresi dengan peningkatan pH dan tak adanya asam hidroklorik bebas (AP). Aspirasi sumsum tulang/pemeriksaan/biopsi : sel mungkin tampak berubah dalam jumlah, ukuran, dan bentuk, membentuk, membedakan tipe anemia, misal: peningkatan megaloblas (AP), lemak sumsum dengan penurunan sel darah (aplastik). Pemeriksaan andoskopik dan radiografik : memeriksa sisi perdarahan : perdarahan GI (Doenges, 1999). G. Penatalaksanaan Medis Tindakan umum : Penatalaksanaan anemia ditunjukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang hilang. 1. Transpalasi sel darah merah. 2. Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi. 3. Suplemen asam folat dapat merangsang pembentukan sel darah merah. 4. Menghindari situasi kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan oksigen 5. Obati penyebab perdarahan abnormal bila ada. 6. Diet kaya besi yang mengandung daging dan sayuran hijau. Pengobatan (untuk pengobatan tergantung dari penyebabnya) : 1. Anemia defisiensi besi Penatalaksanaan : Mengatur makanan yang mengandung zat besi, usahakan makanan yang diberikan seperti ikan, daging, telur dan sayur. Pemberian preparat fe Perrosulfat 3x 200mg/hari/per oral sehabis makan Peroglukonat 3x 200 mg/hari /oral sehabis makan. 2. Anemia pernisiosa : pemberian vitamin B12 3. Anemia asam folat : asam folat 5 mg/hari/oral 4. Anemia karena perdarahan : mengatasi perdarahan dan syok dengan pemberian cairan dan transfusi darah.  MANAJEMEN KEPERAWATAN A. Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluru(Boedihartono, 1994). Pengkajian pasien dengan anemia (Doenges, 1999) meliputi : 1) Aktivitas / istirahat Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum. Kehilangan produktivitas ; penurunan semangat untuk bekerja. Toleransi terhadap latihan rendah. Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak. Tanda : takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau istirahat. Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya. Kelemahan otot, dan penurunan kekuatan. Ataksia, tubuh tidak tegak. Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang menunujukkan keletihan. 2) Sirkulasi Gejala : riwayat kehilangan darah kronik, misalnya perdarahan GI kronis, menstruasi berat (DB), angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan). Riwayat endokarditis infektif kronis. Palpitasi (takikardia kompensasi). Tanda : TD : peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar, hipotensi postural. Disritmia : abnormalitas EKG, depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T; takikardia. Bunyi jantung : murmur sistolik (DB). Ekstremitas (warna) : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjuntiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku. (catatan: pada pasien kulit hitam, pucat dapat tampak sebagai keabu-abuan). Kulit seperti berlilin, pucat (aplastik, AP) atau kuning lemon terang (AP). Sklera : biru atau putih seperti mutiara (DB). Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke kapiler dan vasokontriksi kompensasi) kuku : mudah patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia) (DB). Rambut : kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara premature (AP). 3) Integritas ego Gejala : keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, misalnya penolakan transfusi darah. Tanda : depresi. 4) Eleminasi Gejala : riwayat pielonefritis, gagal ginjal. Flatulen, sindrom malabsorpsi (DB). Hematemesis, feses dengan darah segar, melena. Diare atau konstipasi. Penurunan haluaran urine. Tanda : distensi abdomen. 5) Makanan/cairan Gejala : penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani rendah/masukan produk sereal tinggi (DB). Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring). Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia. Adanya penurunan berat badan. Tidak pernah puas mengunyah atau peka terhadap es, kotoran, tepung jagung, cat, tanah liat, dan sebagainya (DB). Tanda : lidah tampak merah daging/halus (AP; defisiensi asam folat dan vitamin B12). Membrane mukosa kering, pucat. Turgor kulit : buruk, kering, tampak kisut/hilang elastisitas (DB). Stomatitis dan glositis (status defisiensi). Bibir : selitis, misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah. (DB). 6) Neurosensori Gejala : sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidak mampuan berkonsentrasi. Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata. Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parestesia tangan/kaki (AP) ; klaudikasi. Sensasi manjadi dingin. Tanda : peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental : tak mampu berespons, lambat dan dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik, AP). Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). Gangguan koordinasi, ataksia, penurunan rasa getar, dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis (AP). 7) Nyeri/kenyamanan Gejala : nyeri abdomen samara : sakit kepala (DB) <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Pernapasan Gejala : riwayat TB, abses paru. Napas pendek pada istirahat dan aktivitas. Tanda : takipnea, ortopnea, dan dispnea. 9) Keamanan Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia,. Riwayat terpajan pada radiasi; baik terhadap pengobatan atau kecelekaan. Riwayat kanker, terapi kanker. Tidak toleran terhadap dingin dan panas. Transfusi darah sebelumnya. Gangguan penglihatan, penyembuhan luka buruk, sering infeksi. Tanda : demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenopati umum. Ptekie dan ekimosis (aplastik). 10) Seksualitas Gejala : perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore (DB). Hilang libido (pria dan wanita). Imppoten. Tanda : serviks dan dinding vagina pucat.  B. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994). Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan anemia (Doenges, 1999) meliputi : 1. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan)). 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. 3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. 4. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. 5. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi dan neurologist. 6. Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet; perubahan proses pencernaan; efek samping terapi obat. 7. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat ; salah interpretasi informasi ; tidak mengenal sumber informasi.  C. Intervensi/Implementasi keperawatan Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono, 1994) Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi, 1995). Intervensi dan implementasi keperawatan pasien dengan anemia (Doenges, 1999) adalah : 1) Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan)). Tujuan : Infeksi tidak terjadi. Kriteria hasil : &#8211; mengidentifikasi perilaku untuk mencegah/menurunkan risiko infeksi. &#8211; meningkatkan penyembuhan luka, bebas drainase purulen atau eritema, dan demam.  INTERVENSI &amp; IMPLEMENTASI  Tingkatkan cuci tangan yang baik ; oleh pemberi perawatan dan pasien. Rasional : mencegah kontaminasi silang/kolonisasi bacterial. Catatan : pasien dengan anemia berat/aplastik dapat berisiko akibat flora normal kulit.  Pertahankan teknik aseptic ketat pada prosedur/perawatan luka. Rasional : menurunkan risiko kolonisasi/infeksi bakteri.  Berikan perawatan kulit, perianal dan oral dengan cermat. Rasional : menurunkan risiko kerusakan kulit/jaringan dan infeksi.  Motivasi perubahan posisi/ambulasi yang sering, latihan batuk dan napas dalam. Rasional : meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu memobilisasi sekresi untuk mencegah pneumonia.  Tingkatkan masukkan cairan adekuat. Rasional : membantu dalam pengenceran secret pernapasan untuk mempermudah pengeluaran dan mencegah stasis cairan tubuh misalnya pernapasan dan ginjal.  Pantau/batasi pengunjung. Berikan isolasi bila memungkinkan. Rasional : membatasi pemajanan pada bakteri/infeksi. Perlindungan isolasi dibutuhkan pada anemia aplastik, bila respons imun sangat terganggu.  Pantau suhu tubuh. Catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa demam. Rasional : adanya proses inflamasi/infeksi membutuhkan evaluasi/pengobatan.  Amati eritema/cairan luka. Rasional : indikator infeksi lokal. Catatan : pembentukan pus mungkin tidak ada bila granulosit tertekan.  Ambil specimen untuk kultur/sensitivitas sesuai indikasi (kolaborasi) Rasional : membedakan adanya infeksi, mengidentifikasi pathogen khusus dan mempengaruhi pilihan pengobatan.  Berikan antiseptic topical ; antibiotic sistemik (kolaborasi). Rasional : mungkin digunakan secara propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk pengobatan proses infeksi local.  2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : &#8211; menunujukkan peningkatan/mempertahankan berat badan dengan nilai laboratorium normal. &#8211; tidak mengalami tanda mal nutrisi. &#8211; Menununjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat badan yang sesuai.   INTERVENSI &amp; IMPLEMENTASI  Kaji riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai. Rasional : mengidentifikasi defisiensi, memudahkan intervensi.  Observasi dan catat masukkan makanan pasien. Rasional : mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan.  Timbang berat badan setiap hari. Rasional : mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi.  Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan. Rasional : menurunkan kelemahan, meningkatkan pemasukkan dan mencegah distensi gaster.  Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan dan gejala lain yang berhubungan. Rasional : gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.  Berikan dan Bantu hygiene mulut yang baik ; sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. Berikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa oral luka. Rasional : meningkatkan nafsu makan dan pemasukkan oral. Menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi. Teknik perawatan mulut khusus mungkin diperlukan bila jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat.   Kolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet. Rasional : membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual.  Kolaborasi ; pantau hasil pemeriksaan laboraturium. Rasional : meningkatakan efektivitas program pengobatan, termasuk sumber diet nutrisi yang dibutuhkan.  Kolaborasi ; berikan obat sesuai indikasi. Rasional : kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanyan masukkan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi.  3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. Tujuan : dapat mempertahankan/meningkatkan ambulasi/aktivitas. Kriteria hasil : &#8211; melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari) &#8211; menunjukkan penurunan tanda intolerasi fisiologis, misalnya nadi, pernapasan, dan tekanan darah masih dalam rentang normal.  INTERVENSI &amp; IMPLEMENTASI  Kaji kemampuan ADL pasien. Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan.  Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan, gaya jalan dan kelemahan otot. Rasional : menunjukkan perubahan neurology karena defisiensi vitamin B12 mempengaruhi keamanan pasien/risiko cedera.  Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas. Rasional : manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan.  Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan kurangi suara bising, pertahankan tirah baring bila di indikasikan. Rasional : meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru.  Gunakan teknik menghemat energi, anjurkan pasien istirahat bila terjadi kelelahan dan kelemahan, anjurkan pasien melakukan aktivitas semampunya (tanpa memaksakan diri). Rasional : meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus otot/stamina tanpa kelemahan. Meingkatkan harga diri dan rasa terkontrol. 4) Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. Tujuan : peningkatan perfusi jaringan Kriteria hasil : &#8211; menunjukkan perfusi adekuat, misalnya tanda vital stabil.    INTERVENSI &amp; IMPLEMENTASI  Awasi tanda vital kaji pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa, dasar kuku. Rasional : memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menetukan kebutuhan intervensi.  Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi. Rasional : meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Catatan : kontraindikasi bila ada hipotensi.  Awasi upaya pernapasan ; auskultasi bunyi napas perhatikan bunyi adventisius. Rasional : dispnea, gemericik menununjukkan gangguan jajntung karena regangan jantung lama/peningkatan kompensasi curah jantung.  Selidiki keluhan nyeri dada/palpitasi. Rasional : iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/ potensial risiko infark.  Hindari penggunaan botol penghangat atau botol air panas. Ukur suhu air mandi dengan thermometer. Rasional : termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan oksigen.  Kolaborasi pengawasan hasil pemeriksaan laboraturium. Berikan sel darah merah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi. Rasional : mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan /respons terhadap terapi.  Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. Rasional : memaksimalkan transport oksigen ke jaringan.  5) Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi dan neurologist. Tujuan : dapat mempertahankan integritas kulit. Kriteria hasil : &#8211; mengidentifikasi factor risiko/perilaku individu untuk mencegah cedera dermal.  INTERVENSI &amp; IMPLEMENTASI  Kaji integritas kulit, catat perubahan pada turgor, gangguan warna, hangat local, eritema, ekskoriasi. Rasional : kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi dan imobilisasi. Jaringan dapat menjadi rapuh dan cenderung untuk infeksi dan rusak.  Reposisi secara periodic dan pijat permukaan tulang apabila pasien tidak bergerak atau ditempat tidur. Rasional : meningkatkan sirkulasi kesemua kulit, membatasi iskemia jaringan/mempengaruhi hipoksia seluler.  Anjurkan pemukaan kulit kering dan bersih. Batasi penggunaan sabun. Rasional : area lembab, terkontaminasi, memberikan media yang sangat baik untuk pertumbuhan organisme patogenik. Sabun dapat mengeringkan kulit secara berlebihan.  Bantu untuk latihan rentang gerak. Rasional : meningkatkan sirkulasi jaringan, mencegah stasis.  Gunakan alat pelindung, misalnya kulit domba, keranjang, kasur tekanan udara/air. Pelindung tumit/siku dan bantal sesuai indikasi. (kolaborasi) Rasional : menghindari kerusakan kulit dengan mencegah /menurunkan tekanan terhadap permukaan kulit.  6) Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet; perubahan proses pencernaan; efek samping terapi obat. Tujuan : membuat/kembali pola normal dari fungsi usus. Kriteria hasil : &#8211; menunjukkan perubahan perilaku/pola hidup, yang diperlukan sebagai penyebab, factor pemberat.  INTERVENSI &amp; IMPLEMENTASI  Observasi warna feses, konsistensi, frekuensi dan jumlah. Rasional : membantu mengidentifikasi penyebab /factor pemberat dan intervensi yang tepat.  Auskultasi bunyi usus. Rasional : bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi.  Awasi intake dan output (makanan dan cairan). Rasional : dapat mengidentifikasi dehidrasi, kehilangan berlebihan atau alat dalam mengidentifikasi defisiensi diet.  Dorong masukkan cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung. Rasional : membantu dalam memperbaiki konsistensi feses bila konstipasi. Akan membantu memperthankan status hidrasi pada diare.  Hindari makanan yang membentuk gas. Rasional : menurunkan distress gastric dan distensi abdomen  Kaji kondisi kulit perianal dengan sering, catat perubahan kondisi kulit atau mulai kerusakan. Lakukan perawatan perianal setiap defekasi bila terjadi diare. Rasional : mencegah ekskoriasi kulit dan kerusakan.  Kolaborasi ahli gizi untuk diet siembang dengan tinggi serat dan bulk. Rasional : serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam alirannya sepanjang traktus intestinal dan dengan demikian menghasilkan bulk, yang bekerja sebagai perangsang untuk defekasi.  Berikan pelembek feses, stimulant ringan, laksatif pembentuk bulk atau enema sesuai indikasi. Pantau keefektifan. (kolaborasi) Rasional : mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi.  Berikan obat antidiare, misalnya Defenoxilat Hidroklorida dengan atropine (Lomotil) dan obat mengabsorpsi air, misalnya Metamucil. (kolaborasi). Rasional : menurunkan motilitas usus bila diare terjadi. 7) Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat ; salah interpretasi informasi ; tidak mengenal sumber informasi. Tujuan : pasien mengerti dan memahami tentang penyakit, prosedur diagnostic dan rencana pengobatan. Kriteria hasil : &#8211; pasien menyatakan pemahamannya proses penyakit dan penatalaksanaan penyakit. &#8211; mengidentifikasi factor penyebab. &#8211; Melakukan tiindakan yang perlu/perubahan pola hidup.  INTERVENSI &amp; IMPLEMENTASI  Berikan informasi tentang anemia spesifik. Diskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung pada tipe dan beratnya anemia. Rasional : memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat membuat pilihan yang tepat. Menurunkan ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program terapi.  Tinjau tujuan dan persiapan untuk pemeriksaan diagnostic. Rasional : ansietas/ketakutan tentang ketidaktahuan meningkatkan stress, selanjutnya meningkatkan beban jantung. Pengetahuan menurunkan ansietas.  Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. Rasional : megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.  Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang. Rasional : dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.  Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya. Rasional : diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.  Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan. Rasional : mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.  D. Evaluasi Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan, dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya. (Lynda Juall Capenito, 1999:28) Evaluasi pada pasien dengan anemia adalah : 1) Infeksi tidak terjadi. 2) Kebutuhan nutrisi terpenuhi. 3) Pasien dapat mempertahankan/meningkatkan ambulasi/aktivitas. 4) Peningkatan perfusi jaringan. 5) Dapat mempertahankan integritas kulit. 6) Membuat/kembali pola normal dari fungsi usus. 7) Pasien mengerti dan memahami tentang penyakit, prosedur diagnostic dan rencana pengobatan.   <span style="color:#ff0000;">DAFTAR PUSTAKA      * Boedihartono. 1994. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta.     * Burton, J.L. 1990. Segi Praktis Ilmu Penyakit Dalam. Binarupa Aksara : Jakarta     * Carpenito, L. J. 1999. Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan, Diagnosis Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, ed. 2. EGC : Jakarta     * Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien. ed.3. EGC : Jakarta     * Effendi , Nasrul. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC : Jakarta.     * Hassa. 1985. Ilmu Kesehatan Anak jilid 1. FKUI : Jakarta     * http://id.wikipedia.org/wiki/Anemia     * http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0611/30/104458.htm     * Noer, Sjaifoellah. 1998. Standar Perawatan Pasien. Monica Ester : Jakarta.     * Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC : Jakarta.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iw4nsi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iw4nsi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iw4nsi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iw4nsi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iw4nsi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iw4nsi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iw4nsi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iw4nsi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iw4nsi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iw4nsi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iw4nsi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iw4nsi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iw4nsi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iw4nsi.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=84&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/08/10/askep-anemia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5c290272d911dd551f8881c99bf76ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iw4nsi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pneumionia</title>
		<link>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/08/03/pneumionia/</link>
		<comments>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/08/03/pneumionia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 08:15:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iw4nsi.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Pengertian Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan adanya konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli. (Axton &#38; Fugate, 1993) Penyebab - Virus Influensa - Virus Synsitical respiratorik - Adenovirus - Rhinovirus - Rubeola - Varisella - Micoplasma (pada anak yang relatif besar) - Pneumococcus - Streptococcus - Staphilococcus Tanda dan Gejala [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=77&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengertian</p>
<p>Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan adanya konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli. (Axton &amp; Fugate, 1993)</p>
<p>Penyebab<br />
- Virus Influensa</p>
<p>- Virus Synsitical respiratorik</p>
<p>- Adenovirus</p>
<p>- Rhinovirus</p>
<p>- Rubeola</p>
<p>- Varisella</p>
<p>- Micoplasma (pada anak yang relatif besar)</p>
<p>- Pneumococcus</p>
<p>- Streptococcus</p>
<p>- Staphilococcus</p>
<p>Tanda dan Gejala<br />
v Sesak Nafas</p>
<p>v Batuk nonproduktif</p>
<p>v Ingus (nasal discharge)</p>
<p>v Suara napas lemah</p>
<p>v Retraksi intercosta</p>
<p>v Penggunaan otot bantu nafas</p>
<p>v Demam</p>
<p>v Ronchii</p>
<p>v Cyanosis</p>
<p>v Leukositosis</p>
<p>v Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar</p>
<p>Jenis</p>
<p>Pneumonia lobular</p>
<p>Bronchopneumonia</p>
<p>Pengkajian</p>
<p>Identitas :</p>
<p>Umur : Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus dibanding dewasa</p>
<p>Mycoplasma terjadi pada anak yang relatif besar</p>
<p>Tempat tinggal: Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar</p>
<p>Riwayat Masuk</p>
<p>Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas, cyanosis atau batuk-batuk disertai dengan demam tinggi. Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam (seizure).</p>
<p>Riwayat Penyakit Dahulu</p>
<p>Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA, influenza sering terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia.</p>
<p>Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis penderita</p>
<p>Pengkajian</p>
<p>1. Sistem Integumen</p>
<p>Subyektif : -</p>
<p>Obyektif : kulit pucat, cyanosis, turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder), banyak keringat , suhu kulit meningkat, kemerahan</p>
<p>2. Sistem Pulmonal</p>
<p>Subyektif : sesak nafas, dada tertekan, cengeng</p>
<p>Obyektif : Pernafasan cuping hidung, hiperventilasi, batuk (produktif/nonproduktif), sputum banyak, penggunaan otot bantu pernafasan, pernafasan diafragma dan perut meningkat, Laju pernafasan meningkat, terdengar stridor, ronchii pada lapang paru,</p>
<p>3. Sistem Cardiovaskuler</p>
<p>Subyektif : sakit kepala</p>
<p>Obyektif : Denyut nadi meningkat, pembuluh darah vasokontriksi, kualitas darah menurun</p>
<p>4. Sistem Neurosensori</p>
<p>Subyektif : gelisah, penurunan kesadaran, kejang</p>
<p>Obyektif : GCS menurun, refleks menurun/normal, letargi</p>
<p>5. Sistem Musculoskeletal</p>
<p>Subyektif : lemah, cepat lelah</p>
<p>Obyektif : tonus otot menurun, nyeri otot/normal, retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan</p>
<p>6. Sistem genitourinaria</p>
<p>Subyektif : -</p>
<p>Obyektif : produksi urine menurun/normal,</p>
<p>7. Sistem digestif</p>
<p>Subyektif : mual, kadang muntah</p>
<p>Obyektif : konsistensi feses normal/diare</p>
<p>Studi Laboratorik :</p>
<p>Hb : menurun/normal</p>
<p>Analisa Gas Darah : acidosis respiratorik, penurunan kadar oksigen darah, kadar karbon darah meningkat/normal</p>
<p>Elektrolit : Natrium/kalsium menurun/normal</p>
<p>Rencana Keperawatan</p>
<p>1. Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Infeksi Paru</p>
<p>Karakteristik : batuk (baik produktif maupun non produktif) haluaran nasal, sesak nafas, Tachipnea, suara nafas terbatas, retraksi, demam, diaporesis, ronchii, cyanosis, leukositosis</p>
<p>Tujuan :</p>
<p>Anak akan mengalami pola nafas efektif yang ditandai dengan :</p>
<p>Suara nafas paru bersih dan sama pada kedua sisi</p>
<p>Suhu tubuh dalam batas 36,5 – 37,2OC</p>
<p>Laju nafas dalam rentang normal</p>
<p>Tidak terdapat batuk, cyanosisi, haluaran hidung, retraksi dan diaporesis</p>
<p>Tindakan keperawatan</p>
<p>Lakukan pengkajian tiap 4 jam terhadap RR, S, dan tanda-tanda keefektifan jalan napas</p>
<p>R : Evaluasi dan reassessment terhadap tindakan yang akan/telah diberikan</p>
<p>Lakukan Phisioterapi dada secara terjadwal</p>
<p>R : Mengeluarkan sekresi jalan nafas, mencegah obstruksi</p>
<p>Berikan Oksigen lembab, kaji keefektifan terapi</p>
<p>R : Meningkatkan suplai oksigen jaringan paru</p>
<p>Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai order, kaji keefektifan dan efek samping (ruam, diare)</p>
<p>R : Pemberantasan kuman sebagai faktor causa gangguan</p>
<p>Lakukan pengecekan hitung SDM dan photo thoraks</p>
<p>R : Evaluasi terhadap keefektifan sirkulasi oksigen, evaluasi kondisi jaringan paru</p>
<p>Lakukan suction secara bertahap</p>
<p>R : Membantu pembersihan jalan nafas</p>
<p>Catat hasil pulse oximeter bila terpasang, tiap 2 – 4 jam</p>
<p>R : Evaluasi berkala keberhasilan terapi/tindakan tim kesehatan</p>
<p>2. Defisit Volume Cairan b.d :</p>
<p>- Distress pernafasan</p>
<p>- Penurunan intake cairan</p>
<p>- Peningkatan IWL akibat pernafasan cepat dan demam</p>
<p>Karakteristik :</p>
<p>Hilangnya nafsu makan/minum, letargi, demam., muntah, diare, membrana mukosa kering, turgor kulit buruk, penurunan output urine.</p>
<p>Tujuan : Anak mendapatkan sejumlah cairan yang adekuat ditandai dengan :</p>
<p>Intake adekuat, baik IV maupun oral</p>
<p>Tidak adanya letargi, muntah, diare</p>
<p>Suhu tubuh dalam batas normal</p>
<p>Urine output adekuat, BJ Urine 1.008 – 1,020</p>
<p>Intervensi Keperawatan :</p>
<p>Catat intake dan output, berat diapers untuk output</p>
<p>R : Evaluasi ketat kebutuhan intake dan output</p>
<p>Kaji dan catat suhu setiap 4 jam, tanda devisit cairan dan kondisi IV line</p>
<p>R : Meyakinkan terpenuhinya kebutuhan cairan</p>
<p>Catat BJ Urine tiap 4 jam atau bila perlu</p>
<p>R : Evaluasi obyektif sederhana devisit volume cairan</p>
<p>Lakukan Perawatan mulut tiap 4 jam</p>
<p>R : Meningkatkan bersihan sal cerna, meningkatkan nafsu makan/minum</p>
<p>Diagnosa lain :</p>
<p>1. Perubahan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan b.d anoreksia, muntah, peningkatan konsumsi kalori sekunder terhadap infeksi</p>
<p>2. Perubahan rasa nyaman b.d sakit kepala, nyeri dada</p>
<p>3. Intoleransi aktivitas b.d distres pernafasan, latergi, penurunan intake, demam</p>
<p>4. Kecemasan b.d hospitalisasi, distress pernafasan</p>
<p>Referensi :</p>
<p>Acton, Sharon Enis &amp; Fugate, Terry (1993) Pediatric Care Plans, AddisonWesley Co. Philadelphia</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iw4nsi.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iw4nsi.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iw4nsi.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iw4nsi.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iw4nsi.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iw4nsi.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iw4nsi.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iw4nsi.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iw4nsi.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iw4nsi.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iw4nsi.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iw4nsi.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iw4nsi.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iw4nsi.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=77&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/08/03/pneumionia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5c290272d911dd551f8881c99bf76ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iw4nsi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TUBERCULOSA</title>
		<link>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/08/03/tuberculosa/</link>
		<comments>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/08/03/tuberculosa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 08:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iw4nsi.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[KONSEP DASAR TUBERCULOSA 1. Definisi a. Tuberkolusis Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon ( Hood Alsagaff, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=74&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>                     KONSEP DASAR TUBERCULOSA</p>
<p>1. Definisi</p>
<p>a. Tuberkolusis</p>
<p>Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon ( Hood Alsagaff, th 1995. hal 73)</p>
<p>b. Batuk Darah(Hemoptisis)</p>
<p>Batuk darah (hemoptisis)adalah darah atau dahak berdarah yang dibatukkan berasal dari saluran pernafasan bagian bawah yaitu mulai dari glottis kearah distal, batuk darah akan berhenti sendiri jika asal robekan pembuluh darah tidak luas , sehingga penutupan luka dengan cepat terjadi . (Hood Alsagaff, 1995, hal 301)</p>
<p>2. Faktor- factor yang mempengaruhi timbulnya masalah .</p>
<p>a. anatomi dan fisiologi</p>
<p>System pernafasan terdiri dari hidung , faring , laring ,trakea , bronkus , sampai dengan alveoli dan paru-paru</p>
<p>Hidung merupakan saluran pernafasan yang pertama , mempunyai dua lubang/cavum nasi. Didalam terdapat bulu yang berguna untuk menyaring udara , debu dan kotoran yang masuk dalam lubang hidung . hidung dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa (Drs. H. Syaifuddin. B . Ac , th 1997 , hal 87 )</p>
<p>Faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan , faring terdapat dibawah dasar tengkorak , dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher . faring dibagi atas tiga bagian yaitu sebelah atas yang sejajar dengan koana yaitu nasofaring , bagian tengah dengan istimus fausium disebut orofaring , dan dibagian bawah sekali dinamakan laringofaring .(Drs .H.syafuddin. B.Ac 1997 hal 88)</p>
<p>Trakea merupakan cincin tulang rawan yang tidak lengkap (16-20cincin), panjang 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos dan lapisan mukosa . trakea dipisahkan oleh karina menjadi dua bronkus yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri (Drs .H . Syaifuddin .B. Ac th 1997, hal 88-89)</p>
<p>Bronkus merupakan lanjutan dari trakea yang membentuk bronkus utama kanan dan kiri , bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri cabang bronkus yang lebih kecil disebut bronkiolus yang pada ujung – ujung nya terdapat gelembung paru atau gelembung alveoli (H.Syaifuddin B Ac th1997, hal 89-90).</p>
<p>Paru- paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung – gelembung .paru-paru terbagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan tiga lobus dan paru-paru kiri dua lobus . Paru-paru terletak pada rongga dada yang diantaranya menghadap ke tengah rongga dada / kavum mediastinum. Paru-paru mendapatkan darah dari arteri bronkialis yang kaya akan darah dibandingkan dengan darah arteri pulmonalis yang berasal dari atrium kiri.besar daya muat udara oleh paru-paru ialah 4500 ml sampai 5000 ml udara. Hanya sebagian kecil udara ini, kira-kira 1/10 nya atau 500 ml adalah udara pasang surut . sedangkan kapasitas paru-paru adalah volume udara yang dapat di capai masuk dan keluar paru-paru yang dalam keadaan normal kedua paru-paru dapat menampung sebanyak kuranglebih 5 liter. (Drs. H. Syaifuddin . B.Ac .th 1997 hal 90 , EVELYN,C, PIERCE , 1995 hal 221)</p>
<p>Pernafasan ( respirasi ) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh (inspirasi) serta mengeluarkan udara yang mengandung karbondioksida sisa oksidasi keluar tubuh (ekspirasi) yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru .proses pernafasan tersebut terdiri dari 3 bagian yaitu:</p>
<p>1. Ventilasi pulmoner.</p>
<p>Ventilasi merupakan proses inspirasi dan ekspirasi yang merupakan proses aktif dan pasif yang mana otot-otot interkosta interna berkontraksi dan mendorong dinding dada sedikit ke arah luar, akibatnya diafragma turun dan otot diafragma berkontraksi. Pada ekspirasi diafragma dan otot-otot interkosta eksterna relaksasi dengan demikian rongga dada menjadi kecil kembali, maka udara terdorong keluar. (NI LUH GEDE.Y.A.SKp.1995.hal 124. Drs.H.Syaifuddin.B.Ac.1997.hal 91)</p>
<p>2. Difusi Gas.</p>
<p>Difusi Gas adalah bergeraknya gas CO2 dan CO3 atau partikel lain dari area yang bertekanan tinggi kearah yang bertekanann rendah. Difusi gas melalui membran pernafasan yang dipengaruhi oleh factor ketebalan membran, luas permukaan membran, komposisi membran, koefisien difusi O2 dan CO2 serta perbedaan tekanan gas O2 dan CO2. Dalam Difusi gas ini pernfasan yang berperan penting yaitu alveoli dan darah. (Ni Luh Gede.Y.A. SKP. Th 1995 hal 124, Drs. H. Syaifuddin. B.Ac.1997 hal 93 .Hood .Alsegaff th 1995 . hal 36-37)</p>
<p>3. Transportasi Gas</p>
<p>Transportasi gas adalah perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru dengan bantuan darah (aliran darah). Masuknya O2 kedalam sel darah yang bergabung dengan hemoglobin yang kemudian membentuk oksihemoglobin sebanyak 97% dan sisa 3 % yang ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel .(Ni Luh Gede Y. A. Skp th1995 hal 125 Hood Alsegaff th 1995 hal 40).</p>
<p>b. Patofisiologi</p>
<p>Penyebaran kuman Mikrobacterium tuberkolusis bisa masuk melalui tiga tempat yaitu saluran pernafasan , saluran pencernaan dan adanya luka yang terbuka pada kulit. Infeksi kuman ini sering terjadi melalui udara ( airbone ) yang cara penularannya dengan droplet yang mengandung kuman dari orang yang terinfeksi sebelumnya .(Sylvia.A.Price.1995.hal 754)</p>
<p>Penularan tuberculosis paru terjadi karena penderita TBC membuang ludah dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan keluar. Dalam dahak dan ludah ada basil TBC-nya , sehingga basil ini mengering lalu diterbangkan angin kemana-mana. Kuman terbawa angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan bersarang serta berkembangbiak di paru-paru. ( dr.Hendrawan.N.1996,hal 1-2 )</p>
<p>Pada permulaan penyebaran akan terjadi beberapa kemungkinan yang bisa muncul yaitu penyebaran limfohematogen yang dapat menyebar melewati getah bening atau pembuluh darah. Kejadian ini dapat meloloskan kuman dari kelenjar getah bening dan menuju aliran darah dalam jumlah kecil yang dapat menyebabkan lesi pada organ tubuh yang lain. Basil tuberkolusis yang bisa mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari 1-3 basil. Dengan adanya basil yang mencapai ruang alveolus, ini terjadi dibawah lobus atas paru-paru atau dibagian atas lobus bawah, maka hal ini bisa membangkitkan reaksi peradangan. Berkembangnya leukosit pada hari hari pertama ini di gantikan oleh makrofag.Pada alveoli yang terserang mengalami konsolidasi dan menimbulkan tanda dan gejala pneumonia akut. Basil ini juga dapat menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional, sehingga makrofag yang mengadakan infiltrasi akan menjadi lebih panjang dan yang sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epitelloid yang dikelilingi oleh limfosit,proses tersebut membutuhkan waktu 10-20 hari. Bila terjadi lesi primer paru yang biasanya disebut focus ghon dan bergabungnya serangan kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon. Kompleks ghon yang mengalami pencampuran ini juga dapat diketahui pada orang sehat yang kebetulan menjalani pemeriksaan radiogram rutin.Beberapa respon lain yang terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas.Pada proses ini akan dapat terulang kembali dibagian selain paru-paru ataupun basil dapat terbawa sampai ke laring ,telinga tengah atau usus.(Sylvia.A Price:1995;754)</p>
<p>Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa adanya pengobatan dan dapat meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dengan perbatasan bronkus rongga. Bahan perkijauan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung, sehingga kavitas penuh dengan bahan perkijauan dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak lepas.Keadaan ini dapat tidak menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif.(Syilvia.A Price:1995;754)</p>
<p>Batuk darah (hemaptoe) adalah batuk darah yang terjadi karena penyumbatan trakea dan saluran nafas sehingga timbul sufokal yang sering fatal. Ini terjadi pada batuk darah masif yaitu 600-1000cc/24 jam.Batuk darah pada penderita TB paru disebabkan oleh terjadinya ekskavasi dan ulserasi dari pembuluh darah pada dinding kapitas.(Hood Al sagaff dkk:1995;85-86).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iw4nsi.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iw4nsi.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iw4nsi.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iw4nsi.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iw4nsi.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iw4nsi.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iw4nsi.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iw4nsi.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iw4nsi.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iw4nsi.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iw4nsi.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iw4nsi.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iw4nsi.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iw4nsi.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=74&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/08/03/tuberculosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5c290272d911dd551f8881c99bf76ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iw4nsi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKI Melahirkan Masih Dapat Diturunkan</title>
		<link>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/31/aki-melahirkan-masih-dapat-diturunkan/</link>
		<comments>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/31/aki-melahirkan-masih-dapat-diturunkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 16:09:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iw4nsi.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Laporan: Dwidjo [Swadaya Mandiri]ANGKA Kematian Ibu (AKI) sudah turun dari 373 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 307 per 100.000, berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003. Namun pada saat ini setiap setengah jam seorang ibu melahirkan meninggal dunia. Atau, setiap jam dua ibu meninggal. &#8220;Yang penting Aliansi Pita Putih Indonesia (APPI) harus berkembang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=67&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Laporan:</strong> Dwidjo</p>
<p><img src="http://www.pelita.or.id/images/news/img_26967_l.jpg" border="0" alt="" align="left" /><strong>[Swadaya Mandiri]</strong>ANGKA Kematian Ibu (AKI) sudah turun dari 373 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 307 per 100.000, berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003. Namun pada saat ini setiap setengah jam seorang ibu melahirkan meninggal dunia. Atau, setiap jam dua ibu meninggal.<br />
&#8220;Yang penting Aliansi Pita Putih Indonesia (APPI) harus berkembang sesuai visi dan misinya,&#8221; harap Dr Sri Hartati P Pandi MPH seraya menambahkan, visi dan misi APPI sifatnya global, karena APPI berafiliasi dengan Global With Ribbon Alliance (GWRA) yang mempunyai sepuluh prinsip.<br />
Dia juga menjelaskan pentingnya memperjuangkan perempuan, terutama untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan. Ia terus berkiprah mengangkat kaum perempuan baik dalam bidang ekonomi maupun kesehatan, terutama dalam upaya menekan angka kematian ibu hamil dan melahirkan yang berdampak kepada menurunnya Human Development Indeks (HDI) Indonesia.<br />
Sampai saat ini perempuan masih banyak yang belum mendapatkan hak yang sebenarnya, terutama dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang layak, sehingga banyak di antaranya yang meninggal dunia saat hamil maupun melahirkan.<br />
Sebagai Ketua Konsorsium Aliansi Pita Putih ia merasa masih banyak yang harus dikerjakan, terutama dalam upaya memperbaiki harkat dan martabat kaum perempuan, untuk memperbaiki Gender Development Indeks (GDI) yang saat ini masih jauh tertinggal.<br />
Berbagai upaya telah dilakukannya, baik ketika dulu ketika masih menjabat sebagai Deputi Bidang Pengembangan Program BKKBN, maupun setelah pensiun dari jabatan tersebut. Berbagai program untuk memberdayakan kaum perempuan tetap terus dilanjutkan melalui berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat yang digeluti sampai sekarang.<br />
Baginya, kaum perempuan di masa depan akan menghadapi tantangan yang cukup berat, karena selain akan melahirkan tunas-tunas bangsa, kaum perempuan juga harus pandai mendidik. Selain itu, kaum perempuan harus mampu membantu menopang ekonomi keluarga. Karena itulah perjuangannya melalui berbagai LSM yang digelutinya harus terus dilanjutkan dengan cara menghidupkan kembali program Keluarga Indonesia Sehat Sejahtera (KISS) atau Gerakan Indonesia Sehat Sejahtera (GISS).<br />
Terlebih dengan diberlakukannya UU NO 22 tentang Otonomi Daerah, Pemerintah Daerah harus mempunyai komitmen yang kuat terhadap pemberdayaan kaum perempuan, terutama untuk menekan angka kematian ibu hamil dan melahirkan. Dengan demikian, menurutnya program Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS), untuk menjamin keluarga berkualitas dalam upaya menghadapi era globalisasi yang persiangannya sangat ketat bisa tercapai.<br />
Meskipun program kerja Yayasan Melati yang dipimpinnya maupun APPI, termasuk Yayasan Indonesia Damai Sejahtera (Indra) berbeda, namun dari visi dan misi utama dan kegiatan yayasan yang digelutinya ini sama, yaitu sama-sama bermuara kepada pemberdayaan perempuan.<br />
&#8220;Selama ini berbagai program pemberdayaan perempuan terbentur berbagai masalah, di antaranya karena budaya laki-laki yang merasa lebih tinggi dari perempuan. Padahal, menurut Undang-Undang, laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama,&#8221; ucapnya.<br />
&#8220;Bukan hanya itu, sebagian kaum laki-laki kita ada kecenderungan memanjakan isteri, sehingga kaum ibu merasa kurang tertantang untuk maju mengembangkan diri untuk kemajuan kaum perempuan di Indonesia. Bahkan, ada di antara kaum laki-laki yang menginginkan isterinya berhenti bekerja, padahal jenjang karier si istri cukup bagus. Budaya seperti ini sudah saatnya dikikis oleh masyarakat Indonesia, sehingga konsep keluarga berkualitas pada masa mendatang bisa tercapai,&#8221; harapnya.<br />
Bukan hanya segi budaya, berbagai faktor lain juga menjadi penyebab rendahnya Gender Development Indeks (GDI) Indonesia dan harus segera dibenahi untuk mendongkrak Human Development Indeks (HDI) Indonesia yang kini merosot dua tingkat dari Thailand dan Malaysia. Human Development Indeks (HDI) Indonesia saat ini berada di urutan 111 dari 177 negara.<br />
Human Development Indeks (HDI) suatu negara ditentukan oleh derajat kesehatan yang ditandai dengan harapan hidup, tingkat pendidikan, dan tingkat ekonomi. Turunnya HDI Indonesia sampai saat ini dapat dilihat dari masih tingginya angka kematian ibu hamil dan melahirkan, kematian bayi, tingkat pendidikan terutama perempuan yang masih rendah, serta masih rendahnya tingkat ekonomi masyarakat Indonesia.<br />
Salah satu upaya untuk meningkatkan kembali Human Development Indeks (HDI) Indonesia adalah dengan menekan angka kematian ibu hamil dan melahirkan yang dilakukan pemerintah bekerja sama dengan berbagai LSM satu di antaranya dengan Aliansi Pita Putih Indonesia.<br />
Sedangkan upaya meningkatkan tingkat pendidikan dan pemberdayaan perempuan dilakukan Yayasan Melati, Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) bekerja sama dengan Yayasan Indonesia Damai Sejahtera (Indra).<br />
&#8220;Pendidikan menjadi faktor penentu keberhasilan negara ini keluar dari berbagai permasalahan yang dihadapi. Dengan berbekal pendidikan yang memadai kita bisa meraih banyak hal, bukan hanya dari segi financial, tapi juga dari segi sosial,&#8221; ujarnya mantap.<br />
Salah satu kunci keberhasilan pembangunan Indonesia untuk mencapai keluarga sejahtera diperlukan kedisiplinan yang tinggi, terutama disiplin waktu. Saat ini, menurut Bu Pandi, kelihatannya masalah disiplin sangat rendah di kalangan generasi muda Indonesia. Kalau saja kita mau dan mampu menerapkan disiplin yang ketat terhadap diri kita sendiri, niscaya kita akan keluar sebagai pemenang dalam kompetisi kehidupan yang semakin ketat di masa mendatang.<br />
&#8220;Disiplin yang keras telah saya terapkan dalam kehidupan pribadi saya, baik ketika masih dinas di BKKBN, maupun setelah pensiun. Bahkan, dalam kehidupan berkeluarga sekalipun disiplin ketat telah saya terapkan terhadap anak-anak. Bukti dari keberhasilan penerapan disiplin ketat ini telah dirasakan oleh anak-anak saya, dengan keberhasilan mereka dalam meraih cita-cita,&#8221; tutur nenek enam orang cucu ini.<br />
Selain penerapan disiplin yang ketat, kasih sayang seorang ibu juga sangat diperlukan oleh anak-anak. Tanpa kasih sayang seorang anak akan kehilangan arah dan mencari pelarian, yang akan berakibat mereka akan menjadi anak-anak yang broken home. &#8220;Ini akan sangat merugikan generasi muda Indonesia di masa mendatang,&#8221; tandasnya. (djo)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iw4nsi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iw4nsi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iw4nsi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iw4nsi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iw4nsi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iw4nsi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iw4nsi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iw4nsi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iw4nsi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iw4nsi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iw4nsi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iw4nsi.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iw4nsi.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iw4nsi.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=67&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/31/aki-melahirkan-masih-dapat-diturunkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5c290272d911dd551f8881c99bf76ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iw4nsi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.pelita.or.id/images/news/img_26967_l.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Penyakit jantung koroner yang Mematikan</title>
		<link>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/31/penyakit-jantung-koroner-yang-mematikan/</link>
		<comments>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/31/penyakit-jantung-koroner-yang-mematikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 16:03:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iw4nsi.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Penyakit jantung koroner memang sangat mematikan. Di negara-negara berkembang seperti Amerika, Inggris, Singapura, dan Indonesia misalnya, penyakit jantung koroner merupakan salah satu pengancam jiwa manusia yang masih sangat merajalela di samping wabah-wabah lain seperti bencana alam atau flu burung. Telah banyak orang yang meninggal karena penyakit ini, dan biaya operasi untuk menyembuhkan pasien penyakit jantung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=65&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Penyakit jantung koroner memang sangat mematikan. Di negara-negara berkembang seperti Amerika, Inggris, Singapura, dan Indonesia misalnya, penyakit jantung koroner merupakan salah satu pengancam jiwa manusia yang masih sangat merajalela di samping wabah-wabah lain seperti bencana alam atau <a href="http://www.forumsains.com/index.php?PHPSESSID=99oqu4t4gmv72ls9v3pvegpoo0">flu burung</a>. Telah banyak orang yang meninggal karena penyakit ini, dan biaya operasi untuk menyembuhkan pasien penyakit jantung koroner ini pun sangatlah mahal. Walaupun penyakit ini pada umumnya menyerang orang-orang yang relatif sudah cukup tua, sekitar umur 50 tahun dan ke atas, kita tidak boleh mengendurkan kewaspadaan kita dan juga pengetahuan kita tentang penyakit jantung koroner, karena penyakit ini berawal dari kelalaian kita saat kita masih muda.</p>
<div style="text-align:justify;"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Arteri koroner merupakan pembuluh darah yang mensuplai jantung dengan darah. Arteri koroner itu lebih spesifiknya memberikan oksigen-oksigen yang terdapat di dalam darah ke otot – otot jantung yang terdapat di dinding jantung. Hal ini sangat perlu dipertahankan agar seseorang dapat bertahan hidup karena oksigen-oksigen ini akan digunakan untuk respirasi otot jantung agar jantung dapat terus memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Jika oksigen-oksigen ini tidak dapat disalurkan dengan baik ke otot-otot jantung, maka jantung akan menjadi lemah dan tidak dapat menyediakan darah ke seluruh bagian tubuh. Hasilnya, orang tersebut akan meninggal karena proses-proses biologis di dalam dirinya tidak dapat dilakukan karena organ-organ tubuh tidak mendapatkan nutrisi dan oksigen dari darah.</p>
<div style="text-align:justify;"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam penyakit jantung koroner, arteri koroner ini menjadi semakin sempit dan kadang-kadang terblokir. Hal ini menyebabkan darah tidak dapat disalurkan dengan baik ke otot-otot jantung. Pada tahap awal, mungkin si penderita masih dapat bernafas dengan normal dan darah yang mengalir ke otot jantung masih cukup. Namun, ketika dia melakukan aktivitas yang melelahkan seperti berolahraga atau memarahi orang lain, arteri koroner yang menyempit tidak dapat mensuplai darah yang cukup ke otot-otot jantung. Padahal, pada saat ini, jantung memerlukan darah lebih agar tubuh mendapatkan energi yang cukup untuk melakukan aktivitas yang melelahkan itu. Si penderita bisa jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri, dan bahkan bisa langsung meninggal dunia.</p>
<div style="text-align:justify;"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Penyempitan arteri koroner ini biasa disebut arteriosclerosis, dan salah satu bentuk arteriosclerosis adalah penyempitan karena lemak jenuh, yang disebut atherosclerosis. Dalam proses ini, lemak-lemak terkumpul di dinding arteri dan penebalan ini menghasilkan permukaan yang kasar pada dinding arteri dan juga penyempitan arteri koroner. Hal ini membuat kemungkinan adanya penggumpalan darah pada bagian arteri yang menyempit ini. Jika darah terus menggumpal, maka tidak ada lagi darah yang bisa mengalir karena darah ini diblok oleh gumpalan darah yang sudah menjadi keras.</p>
<div style="text-align:justify;"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jika tidak ada lagi darah yang dapat mengalir melalui arteri koroner, maka si penderita akan mengalami serangan jantung. Pada tahap inilah si penderita tidak dapat melanjutkan aktivitinya dan akan jatuh lemas karena ada bagian dari otot jantungnya yang telah mati lantaran tidak mendapatkan cukup darah. Penderita yang mengalami serangan jantung perlu secepatnya dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan segera seperti pemberian oksigen agar dia tidak memasuki tahap yang kritis. Akan tetapi, jika bagian dari otot jantung yang mati itu sangatlah besar, maka dampak yang dialami orang tersebut akan sangat fatal, dan bisa membawa orang itu kepada kematian.</p>
<div style="text-align:justify;"></div>
<p>Oleh karena itu, sebaiknya sejak muda kita menghindari makanan-makanan berlemak seperti lemak hewan. Lemak hewan ini sangatlah jenuh dan sebaiknya digantikan dengan lemak tumbuhan yang tidak berbahaya. Malahan lemak tumbuhan dapat menurunkan kadar kolestrol dalam darah dan jika kita sering berolahraga dan tidak memiliki tekanan darah tinggi, maka kemungkinan kita terkena penyakit jantung koroner ini sangatlah kecil.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iw4nsi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iw4nsi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iw4nsi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iw4nsi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iw4nsi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iw4nsi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iw4nsi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iw4nsi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iw4nsi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iw4nsi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iw4nsi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iw4nsi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iw4nsi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iw4nsi.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=65&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/31/penyakit-jantung-koroner-yang-mematikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5c290272d911dd551f8881c99bf76ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iw4nsi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyakit Kanker Kulit</title>
		<link>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/penyakit-kanker-kulit/</link>
		<comments>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/penyakit-kanker-kulit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 15:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iw4nsi.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Penyakit kanker kulit dewasa ini cenderung mengalami peningkatan jumlahnya terutama di kawasan Amerika, Australia dan Inggris. Berdasarkan beberapa penelitian, mereka orang-orang kulit putih yang lebih banyak menderita jenis kanker kulit ini. Hal tersebut diprediksikan sebagai akibat seringnya mereka terkena (banyak terpajan) cahaya matahari. Di Indonesia penderita kanker kulit terbilang sangat sedikit dibandingkan ke-3 negara tersebut, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=62&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyakit kanker kulit dewasa ini cenderung mengalami peningkatan jumlahnya terutama di kawasan Amerika, Australia dan Inggris. Berdasarkan beberapa penelitian, mereka orang-orang kulit putih yang lebih banyak menderita jenis kanker kulit ini. Hal tersebut diprediksikan sebagai akibat seringnya mereka terkena (banyak terpajan) cahaya matahari. Di Indonesia penderita kanker kulit terbilang sangat sedikit dibandingkan ke-3 negara tersebut, namun demikian kanker kulit perlu dipahami karena selain menyebabkan kecacatan (merusak penampilan) juga pada stadium lanjut dapat berakibat fatal bagi penderita.<span class="fullpost"></p>
<p>Penyakit Kanker Kulit adalah suatu penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak terkendali, dapat merusak jaringan di sekitarnya dan mampu menyebar ke bagian tubuh yang lain. Ada tiga jenis kanker kulit yang umumnya sering diderita manusia, diantaranya adalah karsinoma sel basal (KSB), karsinoma sel skuamosa (KSS) dan melanoma maligna (MM).<br />
<img src="http://content.revolutionhealth.com/contentimages/h9991258.jpg" alt="" width="400" height="250" /><strong>Kanker Kulit Ganas</strong></p>
<li>Karsinoma Sel Basal (KSB)</li>
<p>Merupakan jenis penyakit kanker kulit yang paling banyak diderita. Kanker jenis ini tidak mengalami penyebaran (metastasis) kebagian tubuh lainnya, tetapi sel kanker dapat berkembang dan menyebabkan kerusakan jaringan kulit sekitarnya. Warna kulit yang terang dan sering terkena pijaran cahaya matahari keduanya diduga sebagai penyebab Karsinoma Sel Basal. Faktor lain yang juga dapat menjadi penyebab jenis kanker ini adalah system imun tubuh yang lemah (baik dampak penyakit lain atau pengobatan), luka bakar, sinar X-ray.</p>
<p>1. Tanda dan Gejala<br />
Bagian tubuh yang terserang kanker sel basal biasanya wajah, leher dan kulit kepala. Adapun tanda-tanda penyakit kanker berjenis ini adalah benjolan yang agak berkilat, kemerahan dengan pinggir meninggi yang berwarna agak kehitaman, kelainan seperti jaringan parut dan lecet/lika yang tidak sembuh-sembuh.</p>
<p>2. Diagnosa Jenis kanker<br />
Metode tunggal untuk memastikan penyakit kanker sel basal yaitu Dokter akan melakukan pemeriksaan klinis dan histopatologis dengan mengambil sample bagian kulit yang di anggap sebagai jaringan kanker (biopsy) untuk diteliti dibawah mikroskop.</p>
<p>3. Therapy dan Pengobatan<br />
Apabila diagnosa telah ditegakkan secara jelas bahwa penderita mengalami kanker kulit berjenis sel basal, maka tindakan yang dilakukan umumnya adalah pembedahan atau pengangkatan jaringan kulit (kanker) secara komplit, atau dapat pula dengan tindakan penyinaran. Metode lainnya yang juga kerap dilakukan adalah bedah beku, bedah listrik, laser, fotodinamik serta dengan obat-obatan baik yang dioleskan maupun disuntikkan (kemoterapi).</p>
<li>Karsinoma Sel Skuamosa (KSS)</li>
<p>Merupakan jenis penyakit kanker kulit yang lebih banyak diderita pria terutama kaum lanjut usia (lansia). Ini adalah jenis kanker kulit dimana terjadi keganasan sel keratinosit epidermis, merupakan kanker kulit ke dua tersering. Penyakit kanker kulit KSS ini dapat menyebar kebagian tubuh yang lain, umumnya diderita mereka yang berada diwilayah tropik.</p>
<p>Seperti halnya penyakit KSB, kanker kulit jenis ini juga diduga akibat sinar matahari (dominannya), Imun tubuh yang lemah, virus, bahan-bahan kimia dan jaringan parut juga dapat menimbulkan penyekit ini. Adapun tanda dan gejalanya ialah mempunyai kelainan berupa benjolan-benjolan atau luka yang tidak sembuh-sembuh. Diagnosa ditegakkan dengan metode yang sama pada KSB, begitupun tindakan therapy dan pengobatan cenderung sama dengan kanker sel basal.</p>
<li>Melanoma Maligna (MM)</li>
<p>Ini adalah jenis penyakit kanker kulit yang paling ganas dan berpotensi mematikan. Di Amerika, didapatkan data enam dari tujuh penderita kanker ini meninggal dunia. Dan jumlah orang yang terserang meningkat dari tahun ke tahun. Melanoma Maligna bisa berkembang dari tahi lalat timbul yang sudah ada atau yang baru muncul.</p>
<p>1. Tanda dan Gejala<br />
Informasi ini sangat penting sekali bagi meraka yang memiliki tahi lalat yang kemudian mengalami perubahan baik warna, ukuran maupun bentuknya, Tahi lalat terkadang terasa gatal dan bila digaruk mengeluarkan darah. Sel kanker ini tumbuh dari melanosit, yaitu sel kulit yang berfungsi menghasilkan zat warna melanin.</p>
<p>Kanker ini dicirikan dengan ABCD, yaitu A= Asimetrik, bentuknya tak beraturan. B= Border atau pinggirannya juga tidak rata. C= Color atau warnanya yang bervariasi dari satu area ke area lainnya. Bisa kecoklatan sampai hitam. Bahkan dalam kasus tertentu ditemukan berwarna putih, merah dan biru. D= Diameternya lebih besar dari 6 mm.</p>
<p>2. Diagnosa Melanoma Maligna<br />
Penegakan diagnosa pada kasus penyakit kanker kulit jenis ini sama halnya dengan kedua jenis kanker kulit di atas (KSB dan KSS), yaitu dilakukannya tindakan biopsy untuk pemeriksaan dibawah mikroskop.</p>
<p>3. Therapy dan Pengobatan<br />
Melanoma Maligna merupakan jenis kanker kulit yang paling ganas, dapat menyebar kebagian tubuh lainnya seperti kelenjar limfa. Tindakan yang dilakukan pada penderita kanker jenis ini adalah pengangkatan secara komplit jaringan kanker dengan jalan pembedahan, apabila telah diketahui terjadi penyebaran maka dibutuhkan operasi lanjutan untuk mengangkat jaringan di sekitarnya. Jika sel kanker ditemukan menyebar ke kelenjar limfa, maka mau tidak mau kelenjarnya juga diangkat.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iw4nsi.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iw4nsi.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iw4nsi.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iw4nsi.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iw4nsi.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iw4nsi.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iw4nsi.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iw4nsi.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iw4nsi.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iw4nsi.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iw4nsi.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iw4nsi.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iw4nsi.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iw4nsi.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=62&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/penyakit-kanker-kulit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5c290272d911dd551f8881c99bf76ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iw4nsi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://content.revolutionhealth.com/contentimages/h9991258.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Penyakit Kanker Payudara</title>
		<link>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/penyakit-kanker-payudara/</link>
		<comments>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/penyakit-kanker-payudara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 15:50:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iw4nsi.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Kanker Payudara adalah suatu penyakit dimana terjadi pertumbuhan berlebihan atau perkembangan tidak terkontrol dari sel-sel (jaringan) payudara, Hal ini bisa terjadi terhadap wanita maupun pria. Dari seluruh penjuru dunia, penyakir kanker payudara (Breast Cancer/Carcinoma mammae) diberitakan sebagai salah satu penyakit kanker yang menyebabkan kematian nomer lima (5) setelah ; kaker paru, kanker rahim, kanker hati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=60&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kanker Payudara adalah suatu penyakit dimana terjadi pertumbuhan berlebihan atau perkembangan tidak terkontrol dari sel-sel (jaringan) payudara, Hal ini bisa terjadi terhadap wanita maupun pria. Dari seluruh penjuru dunia, penyakir kanker payudara (<a href="http://all-cancerdisease.blogspot.com/2007/05/breast-cancer.html">Breast Cancer/Carcinoma mammae</a>) diberitakan sebagai salah satu penyakit kanker yang menyebabkan kematian nomer lima (5) setelah ; kaker paru, kanker rahim, kanker hati dan kanker usus.</p>
<div class="post-body">
<li>Penyebab Penyakit Kanker Payudara</li>
<p><span class="fullpost"><br />
Penyakit kanker payudara terbilang penyakit kanker yang paling umum menyerang kaum wanita, meski demikian pria pun memiliki kemungkinan mengalami penyakit ini dengan perbandingan 1 di antara 1000. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan kanker ini terjadi, namun beberapa faktor kemungkinannya adalah :</p>
<p>1. Usia, Penyakit kanker payudara meningkat pada usia remaja keatas.</p>
<p>2. Genetik, Ada 2 jenis gen (BRCA1 dan BRCA2) yang sagat mungkin sebagai resiko. Jika ibu atau saudara wanita mengidap penyakit kanker payudara, maka anda kemungkinan memiliki resiko kanker payudara 2 kali lipat dibandingkan wanita lain yang dalam keluarganya tidak ada penderita satupun.</p>
<p>3. Pemakaian obat-obatan, Misalnya seorang wanita yang menggunakan therapy obat hormon pengganti {hormone replacement therapy (HRT)} seperti Hormon eksogen akan bisa menyebabkan peningkatan resiko mendapat penyakit kanker payudara.</p>
<p>4. Faktor lain yang diduga sebagai penyebab kanker payudara adalah; tidak menikah, menikah tapi tidak punya anak, melahirkan anak pertama sesudah usia 35 tahun, tidak pernah menyusui anak.</p>
<p>Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa penyakit kanker payudara meningkat pada orang yang sering menghadapi kondisi stress (goncangan jiwa) dan juga bagi wanita yang sebelumnya mengalami menstruasi dibawah usia 11 tahun.</p>
<li>Tanda dan Gejala Penyakit Kanker Payudara</li>
<p>Bagi anda yang merasakan adanya benjolan aneh disekitar jaringan payudara atau bahkan salah satu payudara tampak lebih besar, Sebaiknya cepat berkonsultasi kepada dokter. Benjolan ini umumnya tidak menimbulkan rasa sakit, mulai dari ukuran kecil yang kemudian menjadi besar dan teraba seperti melekat pada kulit. Beberapa kasus terjadi perubahan kulit payudara sekitar benjolan atau perubahan pada putingnya.</p>
<p><a href="http://www.nzbcf.org.nz/images/BreastBook_Pg6.gif"><img style="display:block;text-align:center;cursor:pointer;width:400px;margin:0 auto 10px;" src="http://www.nzbcf.org.nz/images/BreastBook_Pg6.gif" border="0" alt="" /></a><br />
Saat benjolan mulai membesar, barulah menimbulkan rasa sakit (nyeri) saat ditekan. Jika dirasakan nyeri pada payudara dan puting susu yang tidak kunjung hilang, sebaiknya segera memeriksakan diri kedokter. Puting susu yang mengkerut kedalam, yang tadinya berwarna merah muda dan akhirnya menjadi kecoklatan bahkan adanya oedema (bengkak) sekitar puting merupakan salah satu tanda kuat adanya kanker payudara. Hal lain adalah seringnya keluar cairan dari puting susu ketika tidak lagi menyusui bayi anda.</p>
<li>Diagnosa Penyakit Kanker Payudara</li>
<p>Penyakit kanker payudara dapat diketahui dengan pasti dengan cara pengambilan sample jaringan sel payudara yang mengalami pembenjolan (tindakan biopsi). Dengan cara ini akan diketahui jenis pertumbuhan sel yang dialami, apakah bersifat tumor jinak atau tumor ganas (kanker).</p>
<li>Type Penyakit Kanker Payudara</li>
<p>Melalui pemeriksaan yang di sebut dengan mammograms, maka <a style="color:#666666;" href="http://www.mayoclinic.com/health/breast-cancer/HQ00348">type</a> kanker payudara ini dapat dikategorikan dalam dua bagian yaitu :</p>
<p><a href="http://nursyifa.hypermart.net/kumpulan_images/payudara.jpg"><img style="display:block;text-align:center;cursor:pointer;width:400px;margin:0 auto 10px;" src="http://nursyifa.hypermart.net/kumpulan_images/payudara.jpg" border="0" alt="" /></a><br />
1. Kanker payudara non invasive, kanker yang terjadi pada kantung (tube) susu {penghubung antara alveolus (kelenjar yang memproduksi susu) dan puting payudara}. Dalam bahasa kedokteran disebut &#8216;ductal carcinoma in situ&#8217; (DCIS), yang mana kanker belum menyebar ke bagian luar jaringan kantung susu.</p>
<p>2. Kanker payudara invasive, kanker yang telah menyebar keluar bagian kantung susu dan menyerang jaringan sekitarnya bahkan dapat menyebabkan penyebaran (metastase) kebagian tubuh lainnya seperti kelenjar lympa dan lainnya melalui peredaran darah.</p>
<li>Penanganan dan Pengobatan Penyakit Kanker Payudara</li>
<p>Penanganan dan pengobatan penyakit kanker payudara tergantung dari type dan stadium yang dialami penderita. Umumnya seseorang baru diketahui menderita penyakit kanker payudara setelah menginjak stadiun lanjut yang cukup parah, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan atau rasa malu sehingga terlambat untuk diperiksakan kedokter atas kelainan yang dihadapinya.</p>
<p>1. <span style="font-weight:bold;">Pembedahan</span>, Pada kanker payudara yang diketahui sejak dini maka pembedahan adalah tindakan yang tepat. Dokter akan mengangkat benjolan serta area kecil sekitarnya yang lalu menggantikannya dengan jaringan otot lain (lumpectomy). Secara garis besar, ada 3 tindakan pembedahan atau operasi kanker payudara diantaranya ;</p>
<p>- Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari payudara (lumpectomy). Operasi ini selalu diikuti dengan pemberian radioterapi. Biasanya lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang besar tumornya kurang dari 2 cm dan letaknya di pinggir payudara.<br />
- Total Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara saja, tetapi bukan kelenjar di ketiak.<br />
- Modified Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga, serta benjolan di sekitar ketiak.</p>
<p>2. <span style="font-weight:bold;">Radiotherapy</span> (Penyinaran/radiasi), yaitu proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker yang masih tersisa di payudara setelah operasi. Tindakan ini mempunyai efek kurang baik seperti tubuh menjadi lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit di sekitar payudara menjadi hitam, serta Hb dan leukosit cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.</p>
<p>3. <span style="font-weight:bold;">Therapy Hormon</span>, Hal ini dikenal sebagai &#8216;Therapy anti-estrogen&#8217; yang system kerjanya memblock kemampuan hormon estrogen yang ada dalam menstimulus perkembangan kanker pada payudara.</p>
<p>4. <span style="font-weight:bold;">Chemotherapy</span>, Ini merupakan proses pemberian obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker. Sistem ini diharapkan mencapai target pada pengobatan kanker yang kemungkinan telah menyebar kebagian tubuh lainnya. Dampak dari kemoterapy adalah pasien mengalami mual dan muntah serta rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang diberikan pada saat kemoterapi.</p>
<p>5. <span style="font-weight:bold;">Pengobatan Herceptin</span>, adalah therapy biological yang dikenal efektif melawan HER2-positive pada wanita yang mengalami kanker payudara stadium II, III dan IV dengan penyebaran sel cancernya.</p>
<li>Pencegahan Penyakit Kanker Payudara</li>
<p>Bagi anda yang merasakan ada hal yang tampak berbeda pada payudara, segeralah memeriksakannya ke dokter jangan sampai terlambat. Misalnya adanya pembesaran sebelah, adanya benjolan disekitar payudara, nyeri terus menerus pada puting susu dan sebagainya seperti pada keterangan tanda dan gejala payudara diatas.</p>
<p>Tindakan lain yang bisa anda lakukan adalah Hindari kegemukan, Kurangi makan lemak, Usahakan banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A dan C, Jangan terlalu banyak makan makanan yang diasinkan dan diasap, Olahraga secara teratur, dan Check-up payudara sejak usia 30 tahun secara teratur.</span></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iw4nsi.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iw4nsi.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iw4nsi.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iw4nsi.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iw4nsi.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iw4nsi.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iw4nsi.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iw4nsi.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iw4nsi.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iw4nsi.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iw4nsi.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iw4nsi.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iw4nsi.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iw4nsi.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=60&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/penyakit-kanker-payudara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5c290272d911dd551f8881c99bf76ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iw4nsi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.nzbcf.org.nz/images/BreastBook_Pg6.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://nursyifa.hypermart.net/kumpulan_images/payudara.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Asuhan Keperawatan Myoma Uteri</title>
		<link>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/asuhan-keperawatan-myoma-uteri/</link>
		<comments>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/asuhan-keperawatan-myoma-uteri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 15:46:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iw4nsi.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[A. Pengertian Myoma Uteri adalah : neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid. Myoma Uteri umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun. Dikenal ada dua tempat asal myoma uteri yaitu pada serviks uteri (2 %) dan pada korpus uteri (97%), belum pernah ditemukan myoma uteri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=58&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. Pengertian</strong></p>
<p>Myoma Uteri adalah : neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid.</p>
<p>Myoma Uteri umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun. Dikenal ada dua tempat asal myoma uteri yaitu pada serviks uteri (2 %) dan pada korpus uteri (97%), belum pernah ditemukan myoma uteri terjadi sebelum menarche.</p>
<p><strong>B. Etiologi</strong></p>
<p>Walaupun myoma uteri ditemukan terjadi tanpa penyebab yang pasti, namun dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa myoma uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon estrogen.</p>
<p><span><strong>C. Lokalisasi Mioma Uteri</strong></p>
<p>1. Mioma intramural ; Apabila tumor itu dalam pertumbuhannya tetap tinggal dalam dinding uterus.</p>
<p>2. Mioma Submukosum ; Mioma yang tumbuh ke arah kavum uteri dan menonjol dalam kavum itu.</p>
<p>3. Mioma Subserosum ; Mioma yang tumbuh ke arah luar dan menonjol pada permukaan uterus.</p>
<p><strong>D. Komplikasi</strong></p>
<p>1. Pertumbuhan leimiosarkoma.</p>
<p>Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar, sekonyong – konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause</p>
<p>2. Torsi (putaran tangkai)</p>
<p>Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Kalau proses ini terjadi mendadak, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut.</p>
<p>3. Nekrosis dan Infeksi</p>
<p>Pada myoma subserosum yang menjadi polip, ujung tumor, kadang-kadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina, dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder.</p>
<p><strong>A. Pemeriksaan Diagnostik</strong></p>
<p>1. Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb: turun, Albumin : turun, Lekosit : turun / meningkat, Eritrosit : turun</p>
<p>2. USG : terlihat massa pada daerah uterus.</p>
<p>3. Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan ukurannya.</p>
<p>4. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.,</p>
<p>5. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi.</p>
<p>6. ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi, yang dapat mempengaruhi tindakan operasi.</p>
<p><strong>B. Cara Penanganan Mioma Uteri</strong></p>
<p>Indikasi mioma uteri yang diangkat adalah mioma uteri subserosum bertangkai. Pada mioma uteri yang masih kecil khususnya pada penderita yang mendekati masa menopause tidak diperlukan pengobatan, cukup dilakukan pemeriksaan pelvic secara rutin tiap tiga bulan atau enam bulan. Adapun cara penanganan pada myoma uteri yang perlu diangkat adalah dengan pengobatan operatif diantaranya yaitu dengan histerektomi dan umumnya dilakukan histerektomi total abdominal. Tindakan histerektomi total tersebut dikenal dengan nama Total Abdominal Histerektomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy (TAH-BSO). TAH–BSO adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus, serviks, kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada dinding, perut pada malignan neoplasmatic desease, leymyoma dan chronic endrometriosis (Tucker, Susan Martin, 1998).</p>
<p><strong>C. Diagnosa Keperawatan</strong></p>
<ol>
<li>Gangguan eliminasi urin (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasm pada daerah sekitarnnya, gangguan sensorik / motorik.</li>
<li>Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot</li>
<li>Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki anak, perubahan dalam masalah kewanitaan, akibat pada hubungan seksual.</li>
<li>Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan terjadinya perdarahan yang berulang-ulang.</li>
<li>Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.</li>
</ol>
<p><strong>RENCANA KEPERAWATAN</strong></p>
<p>Dx 1</p>
<p>Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan system saraf akibat penyempitan kanalis servikalis oleh myoma</p>
<p>Tujuan</p>
<p>Klien dapat mengontrol nyerinya dengan criteria hasil mampu mengidentifikasi cara mengurangi nyeri, mengungkapkan keinginan untuk mengontrol nyerinya.</p>
<p>Intervensi dan Rasional</p>
<p>1. Observasi adanya nyeri dan tingkat nyeri.</p>
<p><em> Memudahkan tindakan keperawatan </em></p>
<p>2. Ajarkan dan catat tipe nyeri serta tindakah untuk mengatasi nyeri</p>
<p><em> Meningkatkan persepsi klien terhadap nyeri yang dialaminya.</em></p>
<p>3. Ajarkan teknik relaksasi</p>
<p><em> Meningkatkan kenyamanan klien</em></p>
<p>4. Anjurkan untuk menggunakan kompres hangat</p>
<p><em> Membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan klien</em></p>
<p>5. Kolaborasi pemberian analgesik</p>
<p><em> Mengurangi nyeri</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dx 2</p>
<p>Gangguan eliminasi urine (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada daerah sekitarnnya, gangguan sensorik / motorik.</p>
<p>Tujuan</p>
<p>Pola eliminasi urine ibu kembali normal dengan criteria hasil ibu memahami terjadinya retensi urine, bersedia melakukan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan retensi urine.</p>
<p>Intervensi dan Rasional</p>
<p>1. Catat pola miksi dan monitor pengeluaran urine</p>
<p><em>Melihat perubahan pola eliminasi klien</em></p>
<p>2. Lakukan palpasi pada kandung kemih, observasi adanya ketidaknyamanan dan rasa nyeri.</p>
<p><em>Menentukan tingkat nyeri yang dirasakan oleh klien</em></p>
<p>3. Anjurkan klien untuk merangsang miksi dengan pemberian air hangat,  mengatur posisi, mengalirkan air keran.</p>
<p><em>Mencegah terjadinya retensi urine </em></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Bagian Obstetri &amp; Ginekologi FK. Unpad. 1993.<em> Ginekologi</em>. Elstar. Bandung</p>
<p>Carpenito, Lynda Juall, 2000.<em> Buku Saku Diagnosa Keperawatan</em>. Edisi 8. EGC. Jakarta</p>
<p>Galle, Danielle. Charette, Jane.2000. <em>Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi.</em> EGC. Jakarta</p>
<p>Hartono, Poedjo. 2000.<em> Kanker Serviks/Leher Rahim &amp; Masalah Skrining di Indonesia. </em>Kursus Pra kongres KOGI XI Denpasar. Mimbar Vol.5 No.2 Mei 2001</p>
<p>Saifidin, Abdul Bari,dkk. 2001. <em>Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. </em>Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo &amp; JNKKR-POGI. Jakarta</p>
<p></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iw4nsi.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iw4nsi.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iw4nsi.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iw4nsi.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iw4nsi.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iw4nsi.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iw4nsi.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iw4nsi.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iw4nsi.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iw4nsi.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iw4nsi.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iw4nsi.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iw4nsi.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iw4nsi.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=58&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/asuhan-keperawatan-myoma-uteri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5c290272d911dd551f8881c99bf76ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iw4nsi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Atonia Uteri</title>
		<link>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/atonia-uteri/</link>
		<comments>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/atonia-uteri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 15:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iw4nsi.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[ASUHAN KEPERAWATAN ATONIA UTERI By. Ns. AFIYAH HIDAYATI, S.Kep. Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini (50%), dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi peripartum. Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah melahirkan. Atonia uteri terjadi karena kegagalan mekanisme ini.(3,4) Perdarahan pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang mengelilingi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=53&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entrytext">
<div class="snap_preview">
<p align="center"><span style="color:#ff0000;"><strong>ASUHAN KEPERAWATAN</strong></span></p>
<p align="center"><span style="color:#ff0000;"><strong>ATONIA UTERI</strong></span></p>
<p align="center"><span style="color:#ff0000;"><strong>By. Ns. AFIYAH HIDAYATI, S.Kep.</strong></span></p>
<p>Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini (50%), dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi peripartum. Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah melahirkan. Atonia uteri terjadi karena kegagalan mekanisme ini.(3,4)</p>
<p>Perdarahan pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tersebut tidak berkontraksi.(4)</p>
<p><strong>A.</strong> <strong>DEFINISI</strong></p>
<ul>
<li>Atonia uteria (relaksasi otot uterus) adalah Uteri tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan pemijatan fundus uteri (plasenta telah lahir). (JNPKR, Asuhan Persalinan Normal, Depkes Jakarta ; 2002)</li>
</ul>
<p><strong>B.</strong> <strong>ETIOLOGI</strong></p>
<p>1. overdistention uterus seperti: gemeli, makrosomia, polihidramnion, atau paritas tinggi.</p>
<p>2. Umur yang terlalu muda atau terlalu tua</p>
<p>3. Multipara dengan jarak keahiran pendek</p>
<p>4. Partus lama / partus terlantar</p>
<p>5. Malnutrisi</p>
<p>6. Dapat juga karena salah penanganan dalam usaha melahirkan plasenta, sedangkan sebenarnya belum terlepas dari uterus.</p>
<p><strong>C.</strong> <strong>MANIFESTASI KLINIS</strong></p>
<p>Ý Uterus tidak berkontraksi dan lembek</p>
<p>Ý Perdarahan segera setelah anak lahir (post partum primer)</p>
<p>D. <strong>PENCEGAHAN ATONIA UTERI </strong></p>
<p>Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko perdarahan pospartum lebih dari 40%, dan juga dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut sebagai terapi. Menejemen aktif kala III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan, anemia, dan kebutuhan transfusi darah.</p>
<p>Kegunaan utama oksitosin sebagai pencegahan atonia uteri yaitu onsetnya yang cepat, dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti ergometrin. Pemberian oksitosin paling bermanfaat untuk mencegah atonia uteri. Pada manajemen kala III harus dilakukan pemberian oksitosin setelah bayi lahir. Aktif protokol yaitu pemberian 10 unit IM, 5 unit IV bolus atau 10-20 unit per liter IV drip 100-150 cc/jam.</p>
<p>Analog sintetik oksitosin, yaitu karbetosin, saat ini sedang diteliti sebagai uterotonika untuk mencegah dan mengatasi perdarahan pospartum dini. Karbetosin merupakan obat long-acting dan onset kerjanya cepat, mempunyai waktu paruh 40 menit dibandingkan oksitosin 4-10 menit. Penelitian di Canada membandingkan antara pemberian karbetosin bolus IV dengan oksitosin drip pada pasien yang dilakukan operasi sesar. Karbetosin ternyata lebih efektif dibanding oksitosin.</p>
<p><strong>E.</strong> <strong>MANAJEMEN ATONIA UTERI </strong></p>
<p>1. Resusitasi <strong></strong></p>
<p>Apabila terjadi perdarahan pospartum banyak, maka penanganan awal yaitu resusitasi dengan oksigenasi dan pemberian cairan cepat, monitoring tanda-tanda vital, monitoring jumlah urin, dan monitoring saturasi oksigen. Pemeriksaan golongan darah dan crossmatch perlu dilakukan untuk persiapan transfusi darah.</p>
<p>2. Masase dan kompresi bimanual <strong></strong></p>
<p>Masase dan kompresi bimanual akan menstimulasi kontraksi uterus yang akan menghentikan perdarahan.</p>
<p>Pemijatan fundus uteri segera setelah lahirnya plasenta (max 15 detik)</p>
<p>Ä Jika uterus berkontraksi</p>
<p>Evaluasi, jika uterus berkontraksi tapi perdarahan uterus berlangsung, periksa apakah perineum / vagina dan serviks mengalami laserasi dan jahit atau rujuk segera</p>
<p>Ä Jika uterus tidak berkontraksi maka :</p>
<p>­ Bersihkanlah bekuan darah atau selaput ketuban dari vagina &amp; lobang serviks</p>
<p>­ Pastikan bahwa kandung kemih telah kosong</p>
<p>­ Lakukan kompresi bimanual internal (KBI) selama 5 menit.</p>
<p>ó Jika uterus berkontraksi, teruskan KBI selama 2 menit, keluarkan tangan perlahan-lahan dan pantau kala empat dengan ketat.</p>
<p>ó Jika uterus tidak berkontraksi, maka : Anjurkan keluarga untuk mulai melakukan kompresi bimanual eksternal; Keluarkan tangan perlahan-lahan; Berikan ergometrin 0,2 mg LM (jangan diberikan jika hipertensi); Pasang infus menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan berikan 500 ml RL + 20 unit oksitosin. Habiskan 500 ml pertama secepat mungkin; Ulangi KBI</p>
<p>Jika uterus berkontraksi, pantau ibu dengan seksama selama kala empat</p>
<p>Jika uterus tidak berkontraksi maka rujuk segera</p>
<p>3. Uterotonika <strong></strong></p>
<p>Oksitosin merupakan hormon sintetik yang diproduksi oleh lobus posterior hipofisis. Obat ini menimbulkan kontraksi uterus yang efeknya meningkat seiring dengan meningkatnya umur kehamilan dan timbulnya reseptor oksitosin. Pada dosis rendah oksitosin menguatkan kontraksi dan meningkatkan frekwensi, tetapi pada dosis tinggi menyababkan tetani. Oksitosin dapat diberikan secara IM atau IV, untuk perdarahan aktif diberikan lewat infus dengan ringer laktat 20 IU perliter, jika sirkulasi kolaps bisa diberikan oksitosin 10 IU intramiometrikal (IMM). Efek samping pemberian oksitosin sangat sedikit ditemukan yaitu nausea dan vomitus, efek samping lain yaitu intoksikasi cairan jarang ditemukan.</p>
<p>Metilergonovin maleat merupakan golongan ergot alkaloid yang dapat menyebabkan tetani uteri setelah 5 menit pemberian IM. Dapat diberikan secara IM 0,25 mg, dapat diulang setiap 5 menit sampai dosis maksimum 1,25 mg, dapat juga diberikan langsung pada miometrium jika diperlukan (IMM) atau IV bolus 0,125 mg. obat ini dikenal dapat menyebabkan vasospasme perifer dan hipertensi, dapat juga menimbulkan nausea dan vomitus. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan hipertensi.</p>
<p>Uterotonika prostaglandin merupakan sintetik analog 15 metil prostaglandin F2alfa. Dapat diberikan secara intramiometrikal, intraservikal, transvaginal, intravenous, intramuscular, dan rectal. Pemberian secara IM atau IMM 0,25 mg, yang dapat diulang setiap 15 menit sampai dosis maksimum 2 mg. Pemberian secara rektal dapat dipakai untuk mengatasi perdarahan pospartum (5 tablet 200 µg = 1 g). Prostaglandin ini merupakan uterotonika yang efektif tetapi dapat menimbulkan efek samping prostaglandin seperti: nausea, vomitus, diare, sakit kepala, hipertensi dan bronkospasme yang disebabkan kontraksi otot halus, bekerja juga pada sistem termoregulasi sentral, sehingga kadang-kadang menyebabkan muka kemerahan, berkeringat, dan gelisah yang disebabkan peningkatan basal temperatur, hal ini menyebabkan penurunan saturasi oksigen. Uterotonika ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan kelainan kardiovaskular, pulmonal, dan disfungsi hepatik. Efek samping serius penggunaannya jarang ditemukan dan sebagian besar dapat hilang sendiri. Dari beberapa laporan kasus penggunaan prostaglandin efektif untuk mengatasi perdarahan persisten yang disebabkan atonia uteri dengan angka kesuksesan 84%-96%. Perdarahan pospartum dini sebagian besar disebabkan oleh atonia uteri maka perlu dipertimbangkan penggunaan uterotonika ini untuk mengatasi perdarahan masif yang terjadi.</p>
<p>4. Uterine lavage dan Uterine Packing <strong></strong></p>
<p>Jika uterotonika gagal menghentikan perdarahan, pemberian air panas ke dalam cavum uteri mungkin dapat bermanfaat untuk mengatasi atonia uteri. Pemberian 1-2 liter salin 47°C-50°C langsung ke dalam cavum uteri menggunakan pipa infus. Tangan operator tidak boleh menghalangi vagina untuk memberi jalan salin keluar.</p>
<p>Penggunaan uterine packing saat ini tidak disukai dan masih kontroversial. Efeknya adalah hiperdistended uterus dan sebagai tampon uterus.</p>
<p>Prinsipnya adalah membuat distensi maksimum sehingga memberikan tekanan maksimum pada dinding uterus. Segmen bawah rahim harus terisi sekuat mungkin, anestesi dibutuhkan dalam penanganan ini dan antibiotika broad-spectrum harus diberikan. Uterine packing dipasang selama 24-36 jam, sambil memberikan resusitasi cairan dan transfusi darah masuk. Uterine packing diberikan jika tidak tersedia fasilitas operasi atau kondisi pasien tidak memungkinkan dilakukan operasi.</p>
<p>5. Operatif <strong></strong></p>
<p>Beberapa penelitian tentang ligasi arteri uterina menghasilkan angka keberhasilan 80-90%. Pada teknik ini dilakukan ligasi arteri uterina yang berjalan disamping uterus setinggi batas atas segmen bawah rahim. Jika dilakukan SC, ligasi dilakukan 2-3 cm dibawah irisan segmen bawah rahim. Untuk melakukan ini diperlukan jarum atraumatik yang besar dan benang absorbable yang sesuai. Arteri dan vena uterina diligasi dengan melewatkan jarum 2-3 cm medial vasa uterina, masuk ke miometrium keluar di bagian avaskular ligamentum latum lateral vasa uterina. Saat melakukan ligasi hindari rusaknya vasa uterina dan ligasi harus mengenai cabang asenden arteri miometrium, untuk itu penting untuk menyertakan 2-3 cm miometrium. Jahitan kedua dapat dilakukan jika langkah diatas tidak efektif dan jika terjadi perdarahan pada segmen bawah rahim. Dengan menyisihkan vesika urinaria, ligasi kedua dilakukan bilateral pada vasa uterina bagian bawah, 3-4 cm dibawah ligasi vasa uterina atas. Ligasi ini harus mengenai sebagian besar cabang arteri uterina pada segmen bawah rahim dan cabang arteri uterina yang menuju ke servik, jika perdarahan masih terus berlangsung perlu dilakukan bilateral atau unilateral ligasi vasa ovarian.</p>
<p>• Ligasi arteri Iliaka Interna</p>
<p>Identiffikasi bifurkasiol arteri iliaka, tempat ureter menyilang, untuk melakukannya harus dilakukan insisi 5-8 cm pada peritoneum lateral paralel dengan garis ureter. Setelah peritoneum dibuka, ureter ditarik ke medial kemudian dilakukan ligasi arteri 2,5 cm distal bifurkasio iliaka interna dan eksterna. Klem dilewatkan dibelakang arteri, dan dengan menggunakan benang non absobable dilakukan dua ligasi bebas berjarak 1,5-2 cm. Hindari trauma pada vena iliaka interna. Identifikasi denyut arteri iliaka eksterna dan femoralis harus dilakukan sebelum dan sesudah ligasi.</p>
<p>Risiko ligasi arteri iliaka adalah trauma vena iliaka yang dapat menyebabkan perdarahan. Dalam melakukan tindakan ini dokter harus mempertimbangkan waktu dan kondisi pasien.</p>
<p>• Teknik B-Lynch</p>
<p>Teknik B-Lynch dikenal juga dengan “brace suture”, ditemukan oleh Christopher B Lynch 1997, sebagai tindakan operatif alternative untuk mengatasi perdarahan pospartum akibat atonia uteri.</p>
<p>• Histerektomi</p>
<p>Histerektomi peripartum merupakan tindakan yang sering dilakukan jika terjadi perdarahan pospartum masif yang membutuhkan tindakan operatif. Insidensi mencapai 7-13 per 10.000 kelahiran, dan lebih banyak terjadi pada persalinan abdominal dibandingkan vaginal.</p>
<p><strong>KOMPRESI BIMANUAL UTERUS ATONI</strong></p>
<p>Peralatan : sarung tangan steril; dalam keadaan sangat gawat; lakukan dengan tangan telanjang yang telah dicuci</p>
<p>Teknik :</p>
<p>Basuh genetalia eksterna dengan larutan disinfektan; dalam kedaruratan tidak diperlukan</p>
<ol>
<li>Eksplorasi      dengan tangan kiri</li>
</ol>
<p>Sisipkan tinju kedalam forniks anterior vagina</p>
<ol>
<li>Tangan kanan (luar) menekan dinding abdomen diatas      fundus uteri dan menangkap uterus dari belakang atas</li>
<li>Tangan dalam menekan uterus keatas terhadap tangan      luar</li>
</ol>
<p>Ia tidak hanya menekan uterus, tetapi juga meregang pembuluh darah aferen sehingga menyempitkan lumennya.</p>
<p>Kompresi uterus bimanual dapat ditangani tanpa kesulitan dalam waktu 10-15 menit.</p>
<p>Biasanya ia sangat baik mengontrol bahaya sementara dan sering menghentikan perdarahan secara sempurna.</p>
<p>Bila uterus refrakter oksitosin, dan perdarahan tidak berhenti setelah kompresi bimanual, maka histerektomi tetap merupakan tindakan terakhir!</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>James R Scott, et al. <em>Danforth buku saku obstetric dan ginekologi</em>. Alih bahasa TMA Chalik. Jakarta: Widya Medika, 2002.</p>
<p><em>Obstetri fisiologi</em>, Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Unversitas Padjajaran Bandung, 1993.</p>
<p>Mochtar, Rustam. <em>Sinopsis obstetrik</em>. Ed. 2. Jakarta: EGC, 1998.</p>
<p>Manuaba, Ida Bagus Gede. <em>Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana</em>. Jakarta: EGC, 1998.</p>
<p>Bobak, Lowdermilk, Jensen. <em>Buku ajar keperawatan maternitas</em>. Alih bahasa: Maria A. Wijayarini, Peter I. Anugerah. Jakarta: EGC. 2004</p>
<p>Heller, Luz. <em>Gawat darurat ginekologi dan obstetric</em>. Alih bahasa H. Mochamad martoprawiro, Adji Dharma. Jakarta: EGC, 1997.</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iw4nsi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iw4nsi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iw4nsi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iw4nsi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iw4nsi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iw4nsi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iw4nsi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iw4nsi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iw4nsi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iw4nsi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iw4nsi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iw4nsi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iw4nsi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iw4nsi.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=53&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/atonia-uteri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5c290272d911dd551f8881c99bf76ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iw4nsi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>mioma uteri</title>
		<link>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/mioma-uteri/</link>
		<comments>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/mioma-uteri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 15:31:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iw4nsi.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa minggu yang lalu ada seorang teman blogger Bunda Nanay divonis oleh seorang bidan kalo beliau terkena miom. Ibu muda ini kebingungan dan bertanya kesana kemari tentang apa dan bagaimana Mioma itu. Untuk itu akan saya ulas sedikit tentang Mioma Uteri pada kesempatan kali ini. Mioma uteri adalah tumor jinak pada daerah rahim atau lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=50&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa minggu yang lalu ada seorang teman blogger <a href="http://nanay.wordpress.com/">Bunda Nanay</a> divonis oleh seorang bidan kalo beliau terkena miom. Ibu muda ini kebingungan dan bertanya kesana kemari tentang apa dan bagaimana Mioma itu. Untuk itu akan saya ulas sedikit tentang Mioma Uteri pada kesempatan kali ini.</p>
<p>Mioma uteri adalah tumor jinak pada daerah rahim atau lebih tepatnya otot rahim dan jaringan ikat disekitarnya. Pada beberapa kepustakaan disebutkan, mioma uteri juga sering disebut dengan Leiomioma, Fibromioma atau Fibroid, hal ini mungkin karena memang otot uterus atau rahimlah yang memegang peranan dalam terbentuknya tumor ini.</p>
<p><span> </span></p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://www.gata.edu.tr/cerrahibilimler/kadindogum/IMAGES/jsrs10-3.jpg" alt="" width="145" height="158" /></p>
<p>Penyebab pasti dari mioma sampai detik ini belum diketahui dengan pasti, tetapi diduga ada peranan hormon estrogen yang berperanan disamping faktor keturunan. Beberapa ahli dalam penelitiannya menemukan bahwa pada otot rahim yang berubah menjadi mioma ditemukan reseptor estrogen yang lebih banyak daripada otot rahim normal.</p>
<p>Lalu bagaimana gejala dan tanda klinis yang muncul pada pasien dengan mioma? Keluhan yang dirasakan dan temuan klinis yang diperoleh oleh seorang dokter sangat terggantung dari lokasi mioma, besarnya serta perubahan perubahan yang terjadi pada organ sekitarnya. Keluhan itu antara lain: perdarahan abnormal, rasa nyeri yang kelewatan, kalau miomanya menekan kandung kencing yang letaknya di bawah rahim maka akan terjadi gangguan kencing. Bila pasien mioma hamil maka bisa terjadi keguguran spontan. Gejala lain yang cukup menakutkan yaitu infertilitas alias mandul.</p>
<p>Pengobatannya bagaimana? Pada mioma kecil dan tidak menimbulkan keluhan, tidak diberikan terapi, hanya perlu diamati tiap 3 – 6 bulan untuk menilai pembesarannya. Pembedahan dan pengangkatan mioma dilakukan bila besarnya mioma melebihi besar rahim seperti pada kehamilan 12 – 14 minggu. Sayangnya pada beberapa pasien atau sekitar 15 – 40% terjadi kekambuhan setelah dilakukan miomektomi atau pengangkatan mioma dan 2/3-nya memerlukan pembedahan lagi.</p>
<p class="zoundry_bw_tags"><!-- Tag links generated by Zoundry Blog Writer. Do not manually edit. http://www.zoundry.com --><br />
<span class="ztagspace">Technorati</span> : <a class="ztag" rel="tag" href="http://technorati.com/tag/kandungan">kandungan</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://technorati.com/tag/myoma%20uteri">myoma uteri</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://technorati.com/tag/penyakit">penyakit</a><br />
<span class="ztagspace">Del.icio.us</span> : <a class="ztag" rel="tag" href="http://del.icio.us/tag/kandungan">kandungan</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://del.icio.us/tag/myoma+uteri">myoma uteri</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://del.icio.us/tag/penyakit">penyakit</a><br />
<span class="ztagspace">Ice Rocket</span> : <a class="ztag" rel="tag" href="http://blogs.icerocket.com/tag/kandungan">kandungan</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://blogs.icerocket.com/tag/myoma+uteri">myoma uteri</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://blogs.icerocket.com/tag/penyakit">penyakit</a><br />
<span class="ztagspace">Flickr</span> : <a class="ztag" rel="tag" href="http://www.flickr.com/photos/tags/kandungan">kandungan</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://www.flickr.com/photos/tags/myoma+uteri">myoma uteri</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://www.flickr.com/photos/tags/penyakit">penyakit</a><br />
<span class="ztagspace">Zooomr</span> : <a class="ztag" rel="tag" href="http://beta.zooomr.com/photos/tags/kandungan">kandungan</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://beta.zooomr.com/photos/tags/myoma%20uteri">myoma uteri</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://beta.zooomr.com/photos/tags/penyakit">penyakit</a><br />
<span class="ztagspace">Buzznet</span> : <a class="ztag" rel="tag" href="http://www.buzznet.com/buzzwords/kandungan">kandungan</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://www.buzznet.com/buzzwords/myoma%20uteri">myoma uteri</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://www.buzznet.com/buzzwords/penyakit">penyakit</a><br />
<span class="ztagspace">Riya</span> : <a class="ztag" rel="tag" href="http://www.riya.com/search?btnSearch=tags&amp;searchText=kandungan">kandungan</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://www.riya.com/search?btnSearch=tags&amp;searchText=myoma%20uteri">myoma uteri</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://www.riya.com/search?btnSearch=tags&amp;searchText=penyakit">penyakit</a><br />
<span class="ztagspace">43 Things</span> : <a class="ztag" rel="tag" href="http://www.43things.com/tag/kandungan">kandungan</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://www.43things.com/tag/myoma+uteri">myoma uteri</a>, <a class="ztag" rel="tag" href="http://www.43things.com/tag/penyakit">penyakit</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iw4nsi.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iw4nsi.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iw4nsi.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iw4nsi.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iw4nsi.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iw4nsi.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iw4nsi.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iw4nsi.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iw4nsi.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iw4nsi.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iw4nsi.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iw4nsi.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iw4nsi.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iw4nsi.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iw4nsi.wordpress.com&amp;blog=8525984&amp;post=50&amp;subd=iw4nsi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iw4nsi.wordpress.com/2009/07/14/mioma-uteri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5c290272d911dd551f8881c99bf76ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iw4nsi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gata.edu.tr/cerrahibilimler/kadindogum/IMAGES/jsrs10-3.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
